Nasehat Kakek Kura-Kura
Di
tepi sungai yang jernih airnya, angin berhembus mesra, pohon tumbuh hijau
semua. Nuansa hening, sejuk dan nyaman begitu terasa. Katak melompat dengan
riang, ikan berenang dengan tenang, di langit sana ramai burung berkicauan.
Disana, sebuah gubuk kecil terletak diatas bukit. Dikelilingi taman bunga indah penuh warna. Tinggal seekor kura- kura tua yang biasa dipanggil si Kakek Kura – kura oleh seluruh penghuni hutan. Karena sifatnya yang bijak, ia dihormati dan disegani se-isi hutan.
Hingga suatu hari, saat si Kakek kura – kura duduk ditepi sungai, sambil menikmati merdunya suara arus air yang mengalir. Datanglah seekor kelinci yang dengan sengaja memukulkan kepalanya ke pohon besar berkali – kali.
Si kakek terkejut, dan langsung menghentikan aksi berbahaya si kelinci.
“Kelinci, apa yang kamu lakukan. Ini berbahaya..”, ucap si Kakek penuh perhatian.
“Kakek jangan ganggu, ini masalah saya, hidup saya”, si Kelinci melanjutkan aksinya. Namun, sesaat sebelum kepalanya menubruk pohon, si Kakek berhasil menghentikannya.
Kakek yang begitu khawatir, mengusap kepala kelinci yang berdarah. “Kelinci, apa gerangan masalah yang kau hadapi, ceritakan pada kakek?”
Hati si kelinci luluh melihat kebaikan si Kakek Kura – kura. Akhirnya di pun menceritakan masalahnya pada si Kakek.
“Kek, dunia ini gak adil buatku. Aku selalu saja sial, tak pernah bahagia. Aku selalu kalah, tak pernah menang, gak adil, dunia ini gak adil, Kek”, tutur si Kelinci.
Si Kakek tersenyum,”oh, jadi itu masalahnya”. Si Kakek mengajak si Kelinci ke tepi sungai. “Ayo kita balap lari, mau?” tantang si Kakek.
Si kelinci diam, merasa heran. Jelas si Kakek tak kan bisa menang melawannya. “Maksud kakek, kita bertanding?”
“Ya, takut?”, jawab si Kakek Kura –kura.
Merasa tertantang, si Kelinci pun menerima tawaran si Kakek. “Ayo! Siapa takut”
Si Kakek tersnyum, dan pada hitungan ke-tiga, pertandingan pun dimulai. Dalam sekejap, si Kelinci sudah sampai di garis finish, meninggalkan si Kakek yang berjalan begitu pelan.
Sesampainya di garis finish, si Kakek tersenyum, “Kau menang kelinci”
“Oh, sudah pasti Kek”, jawab si Kelinci puas.
“Dunia tidak adil bagiku…”, bisik si Kakek.
Kelinci yang mendengar nya, bertanya heran. “Kenapa Kek?”
“Ya, Kakek sangat lambat. Tak pernah sekalipun menang bertanding lari, dengan binatang manapun”, tuturnya. “Tapi, Kakek tak pernah sekalipun memukulkan kepala Kakek ke pohon itu, atau pun pohon lainnya”
Kelinci semakin heran, “Maksud Kakek?”
“Ya, kadang kita merasa dunia tidak adil, karena kita hanya melihat di satu sisi saja. Di sisi yang lain, dunia begitu berpihak pada kita. Tak usah terlalu memikirkan sisi yang kurang baik, cobalah melihat sisi lain yang akan mendatangkan manfaat buat kita”
Kelinci yang tersadar akan tindakan bodohnya pun menangis di pundak si Kakek.
------------------------------<<<<>>>>---------------------
“Bukan dunia atau takdir yang tidak adil, tapi diri kita yang salah menyikapi semua itu. Semakin kita menyadari diri betapa pentingnya hidup, kita akan semakin dewasa dalam menyikapi permasalahan yang ada”
(copas)
Disana, sebuah gubuk kecil terletak diatas bukit. Dikelilingi taman bunga indah penuh warna. Tinggal seekor kura- kura tua yang biasa dipanggil si Kakek Kura – kura oleh seluruh penghuni hutan. Karena sifatnya yang bijak, ia dihormati dan disegani se-isi hutan.
Hingga suatu hari, saat si Kakek kura – kura duduk ditepi sungai, sambil menikmati merdunya suara arus air yang mengalir. Datanglah seekor kelinci yang dengan sengaja memukulkan kepalanya ke pohon besar berkali – kali.
Si kakek terkejut, dan langsung menghentikan aksi berbahaya si kelinci.
“Kelinci, apa yang kamu lakukan. Ini berbahaya..”, ucap si Kakek penuh perhatian.
“Kakek jangan ganggu, ini masalah saya, hidup saya”, si Kelinci melanjutkan aksinya. Namun, sesaat sebelum kepalanya menubruk pohon, si Kakek berhasil menghentikannya.
Kakek yang begitu khawatir, mengusap kepala kelinci yang berdarah. “Kelinci, apa gerangan masalah yang kau hadapi, ceritakan pada kakek?”
Hati si kelinci luluh melihat kebaikan si Kakek Kura – kura. Akhirnya di pun menceritakan masalahnya pada si Kakek.
“Kek, dunia ini gak adil buatku. Aku selalu saja sial, tak pernah bahagia. Aku selalu kalah, tak pernah menang, gak adil, dunia ini gak adil, Kek”, tutur si Kelinci.
Si Kakek tersenyum,”oh, jadi itu masalahnya”. Si Kakek mengajak si Kelinci ke tepi sungai. “Ayo kita balap lari, mau?” tantang si Kakek.
Si kelinci diam, merasa heran. Jelas si Kakek tak kan bisa menang melawannya. “Maksud kakek, kita bertanding?”
“Ya, takut?”, jawab si Kakek Kura –kura.
Merasa tertantang, si Kelinci pun menerima tawaran si Kakek. “Ayo! Siapa takut”
Si Kakek tersnyum, dan pada hitungan ke-tiga, pertandingan pun dimulai. Dalam sekejap, si Kelinci sudah sampai di garis finish, meninggalkan si Kakek yang berjalan begitu pelan.
Sesampainya di garis finish, si Kakek tersenyum, “Kau menang kelinci”
“Oh, sudah pasti Kek”, jawab si Kelinci puas.
“Dunia tidak adil bagiku…”, bisik si Kakek.
Kelinci yang mendengar nya, bertanya heran. “Kenapa Kek?”
“Ya, Kakek sangat lambat. Tak pernah sekalipun menang bertanding lari, dengan binatang manapun”, tuturnya. “Tapi, Kakek tak pernah sekalipun memukulkan kepala Kakek ke pohon itu, atau pun pohon lainnya”
Kelinci semakin heran, “Maksud Kakek?”
“Ya, kadang kita merasa dunia tidak adil, karena kita hanya melihat di satu sisi saja. Di sisi yang lain, dunia begitu berpihak pada kita. Tak usah terlalu memikirkan sisi yang kurang baik, cobalah melihat sisi lain yang akan mendatangkan manfaat buat kita”
Kelinci yang tersadar akan tindakan bodohnya pun menangis di pundak si Kakek.
------------------------------<<<<>>>>---------------------
“Bukan dunia atau takdir yang tidak adil, tapi diri kita yang salah menyikapi semua itu. Semakin kita menyadari diri betapa pentingnya hidup, kita akan semakin dewasa dalam menyikapi permasalahan yang ada”
(copas)

Komentar
Posting Komentar